Rabu, 28 September 2011

Perawatan Luka


Luka adalah rusaknya struktur dan fungsi anatomis normal akibat patologis yang berasal dari internal maupun eksternal dan mengenai organ tertentu (Lazaruset al, 1994 dalam Potter & Perry, 2005). Penyembuhan luka melibatkan integritas proses fisiologis. Sifat penyembuhan pada luka sama, dengan variasinya yang bergantung pada lokasi, tingkat keparahan dan luas cederanya. Luka dapat diklasifikasikan menjadi empat macam seperti : (1) luka tertutup, yaitu luka dimana jaringan yang ada pada permukaan tidak rusak. Misalnya kesleo, terkilir, patah tulang dan sebagainya; (2) luka terbuka, yaitu luka dimana kulit atau jaringan selaput lendir rusak. Kerusakan dapat terjadi karena suatu kesengajaan seperti tindakan operasi; (3) luka tusuk, yaitu luka yang sangat dalam yang mengakibatkan banyak jaringan-jaringan yang ada di dalamnya rusak. Luka tusuk memiliki dinding luka yang licin; (4) luka penetrasi, terjadi jika suatu benda yang masuk jauh ke dalam tubuh, misalnya peluru, dan dinding-dinding luka biasanya tidak rata.
Berdasarkan penyebab luka, ada beberapa jenis luka seperti : (1) Luka Abrasion, yaitu luka yang disebabkan oleh pergeseran sehingga kulit atau selaput lendir terkelupas; (2) Luka stab, yaitu luka yang disebabkan oleh benda yang menembus jaringan (luka tusukan/tikaman); (3) luka laceration, yaitu luka yang disebabkan oleh benda tumpul yang merobek jaringan seperti pecahan kaca.
Proses penyembuhan luka ada dua yaitu penyembuhan primer dan penyembuhan sekunder.
1.      Penyembuhan primer
Penyembuhan luka normal adalah perbaikan luka bedah yang bersih. Proses penyembuhan pimer terjadi dalam tiga tahap, yaitu
a.       Fase inflamasi ( Reaksi )
Fase inflamasi merupakan reaksi tubuh terhadap luka yang dimulai setelah beberapa menit dan berlangsung selama sekitar 3 hari setelah cedera. Proses perbaikan terdiri dari mengontrol perdarahan (hemostasis), mengirim darah dan sel ke area yang mengalami cedera dan membentuk sel-sel epitel pada tempat cedera. Selama proses hemoestasis, pembuluh darah yang cedera akan mengalami kontriksi dan trombosit berkumpul untuk menghentikan perdarahan. Bekuan-bekuan darah membentuk matriks fibrin yang nantinya akan menjadi kerangka untuk perbaikan sel. Jaringan yang rusak dan sel mast menyekresi histamin yang menyebakan vasodilatasi kapiler disekitarnya dan mengeluarkan serum dan sel darah putih ke dalam jaringan yang rusak.
Leukosit akan mencapai luka dalam beberapa jam. Leukosit utama yang bekerja pada luka adalah neutrofil yang mulai memakan bakteri dan debris yang kecil. Neutrofil mati dalam beberapa hari dan meninggalkan eksudat enzim yang akan menyerang bakteri atau membantu perbaikan jaringan. Leukosit penting yang kedua adalah makrofag. Makrofag adalah sel yang membersihkan luka dari bakteri, sel-sel mati dan debris dengan cara fagositosis.
b.      Fase Proliferasi (regenerasi)
Dengan munculnya pembuluh darah baru sebagai hasil rekontruksi, fase poliferasi terjadi dalam waktu 3-24 hari. Aktivitas utama dalam fase ini adalah mengisi luka dengan jaringan penyambung atau dengan jaringan granulasi yang baru dan menutup bagian atas luka dengan epitelisasi. Fibroblast adalah sel-sel mensintesis kolagen yang akan menutup defek luka. Fibroblas membutuhkan vitamin B dan C, oksigen, dan asam amino agar dapat berfungsi dengan baik. Kolagen memberikan kekuatan dan integritas struktur pada luka. Pada periode ini luka mulai tertutup oleh jaringan baru.
c.       Maturasi (remodeling)
Maturasi merupakan tahap akhir proses penyembuhan luka. Fase maturasi dapat memerlukan waktu lebih dari satu tahun bergantung pada kedalaman dan keluasan luka. Jaringan perut kolagen terus melakukan reorganisasi dan akan menguat setelah beberapa bulan. Serat kolagen mengalami remodeling sebelum mencapai bentuk normal.

2.      Penyembuhan sekunder
Bila luka mengalami banyak kehilangan jaringan, maka penyembuhan luka memerlukan waktu lama. Inflamasi yang terjadi sering kali bersifat kronik dan jaringan yang rusak lebih banyak dipenuhi oleh jaringan granulasi daripada dipenuhi oleh kolagen. Jaringan granulasi merupakan salah satu bentuk jaringan konektif (penyambung) yang memiliki lebih banyak suplai darah daripada kolagen. Karena lukanya lebih luas maka jumlah jaringan parut penyambung juga lebih luas.

            Ada beberapa komplikasi penyembuhan luka, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Hemoragi
Hemoragi atau perdarahan dari daerah luka merupakan hal yang normal terjadi selama dan sesaat setelah trauma. Perdarahan dapat terjadi secara eksternal atau internal. Perawat dapat mendeteksi perdarahan internal dengan melihat adanya distensi atau pembengkakkan pada bagian tubuh yang mengalami luka. Perdarahan eksternal lebih jelas terlihat. Perawat mengobservasi adanya drainase darah pada balutan yang menutupi luka.
2.      Infeksi
Infeksi luka merupakan infeksi nosokomial (infeksi yang berhubungan dengan rumah sakit). Luka mengalami infeksi jika terdapat draenase purulen pada luka.Yang membedakan antara luka terkontaminasi dengan luka infeksi adalah jumlah bakteri yang ada di dalamnya. Resiko infeksi lebih besar terjadi jika luka mengandung jaringan mai atau nikrotik, terdapat benda asing pada atau dekat luka dan suplai darah di sekitar luka menurun.
3.      Dehisens
Dehisens adalah terpisahnya lapisan luka secara parsial atau total. Klien dengan penyembuhan luka yang buruk berisiko mengalami dehisens. Klien dengan obesitas juga berisiko tinggi mengalami dehisens karena adanya regangan yang konstan pada luka dan buruknya kualitas penyembuhan kualitas penyembuhan luka pad ajaringan lemak.
4.      Eviserasi
Terpisahnya lapisan luka secara total dapat menmbulkan eviserasi ( keluarnya organ viseral melalui luka yang terbuka). Kondisi ini merupakan darurat medis yang perlu diperbaiki melalui pembedahan. Bila terjadi eviserasi, perawat meletakkan handuk steril yang dibasahi dengan salin normal steril di atas jaringan yang keluar untuk mencegah masuknya bakteri dan kekeringan pada jaringan tersebut.
5.      Fistula
Fistula adalah saluran abnormal yang berada di antara 2 organ atau di antara organ dan bagian luar tubuh. Trauma, infeksi, terpapar radiasi serta penyakit seperti kanker akan menyebabkan lapisan jaringan tidak menutup dengan baik dan membentuk saluran fistula.
            Faktor- faktor yang mempengaruhi kecepatan penyembuhan luka adalah sebagai berikut:
1.      Nutrisi
Penyembuhan luka secara normal memerlukan nutrisi yang tepat. Proses fisiologi penyembuhan luka bergantung pada tersedianya protein, vitamin (terutama vitamin A dan C) dan mineral renik zink dan tembaga. Kolagen adalah protein yang terbentuk dari asam amino yang diperoleh fibroblas dari makanan yang mengandung protein yang dimakan. Vitamin C dibutuhkan untuk mensintesis kolagen. Vitamin A dapat mengurangi efek negatif steroid pada penyembuhan luka. Elemen zink diperlukan untuk sintesis kolagen dan pembentukan epitel.
2.      Penuaan
Penuaan dapat mengganggu semua tahap penyembuhan luka. Pembentukan antibodi dan limfosit menurun dan respon inflamasi lambat.
3.      Penyakit tertentu
Misalnya, Diabetes yang mengakibatkan gangguan sirkulasi, sehingga menghambat reaksi vaskuler.
4.      Merokok
Merokok mengurangi jumlah Hb fungsional dalam darah sehingga menurunkan oksigenasi jaringan. Merokok menggangu mekanisme sel normal yang dapat meningkatkan  pelepasan oksigen ke dalam jaringan
Perawatan luka perlu dikuasi oleh perawat. Pada keadaan darurat, perawat memberikan pertolongan pertama untuk perawatan luka. Pertolongan pertama pada luka yang diberikan kepada klien meliputi:
1.      Hemoestasis
Setelah mengkaji jenis dan luas luka, perawat harus mengontrol perdarahan akibat laserasi dengan cara menekan luka secara langsung dengan menggunakan balutan steril atau bersih. Setelah perdarahan reda, tempelkan sepotong perban perekat atau kasa di atas luka laserasi sehingga memungkinkan tepi luka menutup dan bekuan darah terbentuk. Apabila balutan penuh dengan darah, perawat perlu menambah lapisan balutan dan melanjutkan menekan luka serta meninggikan bagian tubuh yang terluka. Balut tekan yang digunakan pada 24 sampai 48 jam pertama setelah trauma dapat membantu mempertahankan hemostasis.
2.      Pembersihan luka
Proses pembersihan luka terdiri dari memilih cairan yang tepat untuk membersihkan luka dan menggunakan cara-cara mekanik yang tepat untuk memasukkan cairan tersebut tanpa menimbulkan cedera pada jaringan luka. Membersihkan luka dengan lembut tetapi mantap akan membuang kontaminan yang mungkin menjadi suber infeksi. Namun, jika dilakukan dengan menggunakan kekuatan yang berlebihan dapat menimbulkan perdarahan atau cedera yang lebih lanjut. Menurut pedoman klinis AHCPR 1994, cairan pembersih yang dianjurkan adalah cairan salin normal. Salin normal merupakan cairan fisiologis dan tidak akan membahayakan jaringan luka. Membersihkan luka secara hati-hati dengan salin normal dan memasang balutan yang dibasahi larutan salin merupakan cara yang sering digunakan untuk menyembuhakan luka dan melakukan debridemen luka. Perawat menggunakan cairan salin untuk mempertahankan permukaan luka agar tetap lembat sehingga dapat meningkatkan perkembangan dan migrasi jaringan epitel. Balutan salin yang lembab hanya digunakan untuk melakukan debridemen luka dan tidak boleh digunakan pada granulasi yang bersih.
3.      Balutan
Menggunakan balutan yang tepat perlu disertai pemahaman tentang penyembuhan luka. Apabila balutan tidak sesuai dengan karakteristik luka, maka balutan tersebiut akan menghambat penyembuhan luka. Pada luka operasi dengan penyembuhan primer, umumnya balutan dibuka segera setelah drainase berhenti. Jika perawat membalut luka terbuka dengan penyembuhan sekunder, maka balutan tersebut dapat menjadi sarana untuk memindahkan eksudat dan jaringan nekrotik sevcara mekanik.
Tujuan Pembalutan
1.      Melindungi luka dari kontaminasi
2.      Membantu hemostasis
3.      Mempercepat penyembuhan
4.      Menyangga atau mengencangkan tepi luka
5.      Melindungi klien agar tidak melihat keadaan luka
6.      Meningkatkan isolasi suhu pada permukaan luka
7.      Mempertahankan kelembaban diantara luka dengan balutan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, luka adalah rusaknya struktur dan fungsi anatomis normal akibat patologis yang berasal dari internal maupun eksternal yang mengenai organ tubuh tertentu. Perawatan luka sesuai dengan karakteristik atau jenis luka. Perawat berperan penting dalam perawatan luka tersebut. Tindakan yang dilakukan perawat dalam melakukan perawatan luka harus dilaksanakan dengan hati-hati agar penyembuhan luka klien dapat berjalan lancar. Perawat menggunakan beberapa pertolongan pertama pada luka yang diderita klien diantaranya adalah hemoragi, pembersihan luka dan pemberian balutan. Semua tindakan tersebut dilakukan dengan lembut tapi pasti agar tidak mengganggu penyembuhan luka.



Referensi

Potter, P. A.,dan Perry, A. G. (2009) Fundamentals of Nursing.Ed.4 Volume 2 (Terj. Dr. Adrina Ferderika).   Jakarta: Penerbit Salemba Medika.
Stevens, dkk. (1999) Ilmu Keperawatan Ed. 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
Wolff, Lu Verne, dkk (1984) Dasar- Dasar Ilmu Keperawatan. Jakarta: Gunung Agung

0 komentar:

Posting Komentar