Follow by Email

Selasa, 27 September 2011

IMOBILISASI



Ganguan mobilisasi atau imobilisasi mengacu pada ketidakmampuan seseorang untuk bergerak dengan bebas.
Jenis Imobilisasi adalah sebagai berikut :
1.       Imobilisasi fisik, merupakan pembatasan untuk bergerak secara fisik dengan tujuan mencegah terjadinya gangguan komplikasi pergerakan.
2.      Imobilisasi intelektual, merupakan keadaan ketika seseorang mengalami keterbatasan pikir seperti pada pasien yang mengalami kerusakan otak akibat suatu penyakit
3.      Imobilitas emosional, merupakan keadaan ketika seseorang mengalami pembatasan secara emosional karena adanya perubahan secara tiba-tiba dalam menyesuaikan diri seperti keadaan stress berat dapat disebabkan karena bedah amputasi .
4.      Imobilitas social, merupakan keadaan individu yang mengalami hambatan dalam melakukan interaksi social karena keadaan penyakitnya sehingga dapat mempengaruhi perannya dalam kehidupan social.

Banyak kondisi patologis yang mempengaruhi kesejajaran tubuh dan mobilisasi, diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      Kelainan postur
Kelainan postur yang didapat atau kongenital mempengaruhi efisiensi sistem muskuloskeletal seperti kesejajaran tubuh, keseimbangan, dan penampilan. Kelainan postur menggangu kesejajaran dan mobilisasi.
2.      Gangguan perkembangan otot
Distrofi muskular adalah sekumpulan gangguan yang disebabkan oleh degenerasi serat otot skelet
3.      Kerusakan sistem saraf pusat
Kerusakan komponen sistem saraf pusat yang mengatur pergerakan volunter mengakibatkan gangguan kesejajaran tubuh dan mobilisasi. Gangguan morotik langsung berhubungan dengan jumlah kerusakan pada jalur motorik. Karena serat motorik volunter turun dari jalur motorik serebrum bawah medula spinalis, maka trauma pada medula spinalis juga mengganggu mobilisasi. Trauma ini diakibatkan dari kecelakaan menyelam, mobil, atau tertembak.
4.      Trauma langsung pada sistem muskuloskeletal
Trauma langsung pada sistem muskuloskeletal menyebabkan memar, kontusio, salah urat, dan fraktur.

Fraktur tulang adalah patah pada tulang. Fraktur dapat dibagi menjadi empat jenis. Keempat jenis itu adalah (1) fraktur komplert, yaitu fraktur yang mengenai tulang keseluruhan; (2) Fraktur inkomplet, yaitu fraktur yang mengenai tulang secara parsia; (3) fraktur simple (tertutup), yaitu fraktur yang tidak menyebabkan robeknya kulit; (4) Fraktur cmpound (terbuka), yaitu fraktur yang menyebabkan robeknya kulit. Fraktur terbuka dan tertutup dapat bersifat komplet atau inkomplet.
            Faktur dapat menimbulkan efek. Ketika tulang patah, sel tulang mati. Perdarahan biasanya terjadi di sekitar tempat patah dan ke dalam jaringan lunak di sekitar tulang tersebut. Jaringan lunak biasanya mengalami kerusakan akibat cedera. Reaksi inflamasi yang intens terjadi setelah patah tulang. Sel darah putih dan sel mast berakumulasi sehingga menyebabkan peningkatan aliran darah ke area tersebut. Fagositosis dan pembersihan debris sel mati dimulai. Bekuan fibrin (hematoma fraktur) terbentuk di tempat patah dan berfungsi sebagai jala untuk melekatnya sel-sel baru. Aktivitas osteoblas segera terstimulus dan terbentuk tulang baru imatur, yang disebut kalus. Bekuan fibrin segera direabsorbsi dan sel tulang baru secara perlahan mengalami remodeling untuk membentuk tulang sejati. Tulang sejati menggantikan kalus dan secara perlahan mengalami kalsifikasi. Penyembuhan memerlukan waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan (fraktur pada anak sembuh lebih cepat). Penyembuhan dapat terganggu apabila hematoma fraktur atau kalus rusak sebelum tulang sejati terbentuk, atau apabila sel tulang baru rusak selama kalsifikasi dan pergeseran.
           

Pengaruh fisiologis terhadap sistem tubuh akibat dari imobilisasi.
1.      Perubahan Metabolik.
Sistem endokrin, merupakan produksi hormon-sekresi kelenjer, membantu mempertahankan dan mengatur fungsi vital seperti respon terhadap stres dan cedera, pertumbuhan dan perkembangan, reproduksi, homeostasis ion, dan metabolisme energi. Ketika cedera atau stres terjadi, sistem endokrin memicu serangkaian respon yang bertujuan mempertahankan tekanan darah dan memelihara hidup. Imobilisasi mengganggu metabolik normal, antara lain laju metabolik; metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein; ketidak seimbangan kalsium; dan gangguan pencernaan.
2.      Perubahan Sistem Respiratori
Klien pascaoperasi berisiko tinggi menglami komplikasi paru-paru. Komplikasi paru-paru yang paling umum adalah atelektasis dan pneumonia hipostatik. Pada atelektosis, bronkiolus menjadi tertutup oleh adanya sekresi dan kolaps alveolus distal karena udara yang diabsorsi, sehingga menghasilkan hipoventilasi. Pneumonia hipostatik adalah peradangan paru-paru akibat statisnya sekresi. Atelektasis dan pneumonia hipostatik, keduanya sama-sama menurunkan oksigenasi, memperlambat penyembuhan, dan menambah ketidaknyamanan klien (Long et al, 1993 dalam Potter&Perry, 2005)
3.      Perubahan Sistem kardiovaskuler
Sistem kardiovaskuler juga dipengaruhi oleh imobilisasi. Ada tiga perubahan utama yaitu hipotensi ortostatik, adalah penurunan tekanan darah sistolik 25 mmHg dan diastolik 10 mmHg ketika klien bangun dari posisi berbaring atau duduk ke posisi berdiri. Jika beban kerja jantung meningkat maka  kunsumsi oksigen juga meningkat. Oleh karena itu jantung bekerja lebih keras dan kurang efisien selama masa istirahat yang lama. Jika imobilisasi meningkat maka curah jantung menurun, penurunan efisiensi jantung yang lebih lanjut dan peningkatan beban kerja. Selain itu klien juga berisiko terjadinya pembentukan trombus. Trombus adalah akumulasi trombosit, fibrin, faktor-faktor pembekuan darah, dan elemen-elemen darah yang menempel pada dinding bagian anterior vena atau arteri, kadang-kadang menutup lumen pembuluh darah.
4.      Perubahan Sistem Muskuloskeletal
Pengaruh imobilisasi pada sistem pada sistem muskuloskeletal meliputi gangguan mobilisasi permanen. Keterbatasan mobilisasi mempengaruhi oto klien melalui kehilangan daya tahan, penurunana otot, atrofi dan penurunan stabilitas. Imobilisasi menyebabkan dua perubahan skelet: gangguan metabolisme kalsium dan kelainan sendi. Karena imobilisasi berakibat pada resorpsi tulang, sehingga jaringan tulang menjadi kurang padat, dan terjadi osteoporosis. Apabila osteoporosis terjadi maka klien berisiko terjadinya fraktur patologis. Imobilisasi dan aktivitas yang tidak menyangga tubuh meningkatan kecepatan resorpsi tulang.
5.      Pengaruh Sistem Integumen
Dekubitus adalah salah satu penyakit iatrogenik paling umum dalam perawatan kesehatan dimana berpengaruh terhadap populasi klien khusus-lansia dan yang imobilisasi. Dekubitus terjadi akibat iskimia dan anoksia jaringan.
6.      Perubahan Elimanasi Urine.
Eliminasi urine klien berubah oleh adanya imobilisasi. Pada posisi tegak lurus, urine mengalir keluar dari pelvis ginjal lalu masuk ke dalam ureter dan kandung kemih akibat gaya gravitasi. Jika klien dalam posisi rekumben atau datar, ginjal dan ureter membentuk garis datar sebagai pesawat. Ginjal yang membentuk urine harus masuk ke dalam kandung kemih melawan gaya gravitasi. Akibat kontraksi peristaltik ureter yang tidak cukup kuat melawan gaya gravitasi, pelvis ginjal menjadi terisi sebelum urine masuk ke dalam ureter. Kondisi ini disebut statis urine yang meninggalkan risiko infeksi saluran perkemihan dan batu ginjal.
Diagnosa keperawatan mengidentifikasi perubahan jajaran tubuh dan mobilisasi yang aktual dan potensial berdasarkan pengumpulan data yang selama pengakajian.
Contoh proses diagnosa keperawatan untuk hambatan mobilisasi fisik dan risiko cedera.
Pengkajin aktivitas
Batasan karakteristik
Diagnosa keperawatn
Ukur rentang gerak selama latihan ekstremitas





Inspeksi kulit klien dari keutuhan area eksternitas yang digips. Observasi gaya berjalan dan kemampuan bergerak secara bebas
Keterbatasan rentang gerak pada bahu kiri. Enggan mencoba menggerakan bahu kiri. Gagal mengoordinasikan ketika melakukan rentang gerak pada. Klien mengeluh nyeri tajam pada bahu bahu kiri

Abrasi kulit area perimeter yang digips
Hambatan mobilisasi fisik berhubungan dengan nyeri bahu kiri





Risiko cedera berhubungan dengan tekanan gips.


Efek setelah operasi fraktur dapat berupa cedera jika tidak dijaga dengan baik selama masa penyembuhan atau pemulihan. Yang harus dijaga selama proses penyembuhan luka adalah tidak boleh kena air atau basah, sampai benang dicabut. Jika pinnya dipasang diluar kulit (terlihat) tidak boleh kena air sampai pinnya dicabut kembali supay tidak terjadi infeksi. Kalau operasi bukan pasang pin biasanya proses pemulihan lebih cepat hanya menunggu sampai luka kering dan benang dicabut.



Daftar Pustaka
Corwin, Elizabeth (2009) Buku Saku Patofisiologi. Ed 3. ( Terj. Nike Budhi Subekti). Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
Potter, P. A and Perry, A. G (2006). Fundamental of Nursing Consepss, Process, and Practice. Ed. 7 (Terj. Ardina ferdika). Eds Dripa Sjabana. Jakarta : Salemba Medika.

0 komentar:

Posting Komentar