Follow by Email

Senin, 24 Oktober 2011

WSD (WATER SEAL DRAINAGE)

1.      Scientific Knowledge Base
Efusi pleura merupakan pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak antara permukaan viseral dan pariental. Pada gangguan tertentu, cairan dapat berkumpul dalam ruangan pleural pada titik dimana penumpukan ini akan menjadi bukti klinis, dan hampir selalu merupakan signifikan patologi. WSD merupakan tindakan untuk mengeluarakan cairan dari rongga pleura tersebut.
Tipe atau sistem WSD
1.      WSD dengan sistem satu botol
·         Sistem yang paling sederhana dan sering digunakan pada pasien simple pneumothoraks
·         Terdiri dari botol dengan penutup segel yang mempunyai 2 lubang selang yaitu 1 untuk ventilasi dan 1 lagi masuk ke dalam botol
·         Air steril dimasukan ke dalam botol sampai ujung selang terendam 2cm untuk mencegah masuknya udara ke dalam tabung yang bisa menyebabkan kolaps paru
·         Selang untuk ventilasi dalam botol dibiarkan terbuka untuk memfasilitasi udara dari rongga pleura keluar
·         Drainage tergantung dari mekanisme pernafasan dan gravitasi
·         Undulasi (gelembung udara) pada selang cairan mengikuti irama pernafasan yaitu saat : > Inspirasi akan meningkat dan > Ekpirasi menurun
2.      WSD dengan sistem 2 botol
·         Digunakan 2 botol ; 1 botol mengumpulkan cairan drainage dan botol ke-2 botol water seal
·         Botol 1 dihubungkan dengan selang drainage yang awalnya kosong dan hampa udara, selang pendek pada botol 1 dihubungkan dengan selang di botol 2 yang berisi water seal
·         Cairan drainase dari rongga pleura masuk ke botol 1 dan udara dari rongga pleura masuk ke water seal botol 2
·         Prinsip kerjasama dengan sistem 1 botol yaitu udara dan cairan mengalir dari rongga pleura ke botol WSD dan udara dipompakan keluar melalui selang masuk ke WSD Bisasanya digunakan untuk mengatasi adanya cairan dan udara pada rongga dan pada efusi pleura
3. WSD dengan sistem 3 botol
·         Sama dengan sistem 2 botol,hanya ditambah 1 botol untuk mengontrol jumlah hisapan yang digunakan.
·         Paling aman untuk mengatur jumlah hisapan
·         Yang terpenting adalah kedalaman selang di bawah air pada botol ke-3.
·         Jumlah hisapan tergantung pada kedalaman ujung selang yang tertanam dalam air botol WSD
·         Drainage tergantung gravitasi dan jumlah hisapan yang ditambahkan
ü  Botol ke-3 mempunyai 3 selang :
• Tube pendek diatas batas air dihubungkan dengan tube pada botol ke dua
• Tube pendek lain dihubungkan dengan suction
• Tube di tengah yang panjang sampai di batas permukaan air dan terbuka ke atmosfer
2.      Nursing Knowledge Base
a.       Pengertian
WSD merupakan tindakan invasive yang dilakukan untuk mengeluarkan udara, cairan (darah,pus) dari rongga pleura, rongga thorax; dan mediastinum dengan menggunakan pipa.
b.      Tujuan
· Mengeluarkan cairan atau darah, udara dari rongga pleura dan rongga thorak
· Mengembangkan kembali paru yang kolaps
· Mengembalikan tekanan negative pada rongga pleura
· Mencegah refluks drainage kembali ke dalam rongga dada
c.       Indikasi
-          Pneumothoraks : luka tusuk tembus, klem dada yang terlalu lama dan kerusakan selang dada pada sistem drainase.
-          Hemothoraks : robekan pleura, kelebihan antikoagulan, pasca bedah thoraks
-          Thorakotomy : lobektomy, pneumoktomy
-          Efusi pleura : Post operasi jantung
-          Emfiema : penyakit paru serius dan kondisi inflamsi
d.      Kontraindikasi
-          Infeksi pada tempat pemasangan
-          Gangguan pembekuan darah
e.       Komplikasi
-          Trauma toraks
-          Laserasi (cedera) organ
-          Empisema subkutis
-          Tube lepas
-          Tube tersumbat
-          Infeksi
f.       Prinsip-prinsip penting yang perlu diperhatikan
-          Udara dan cairan mengalir dari tekanan yang tinggi ke tekanan yang rendah.
-          Tekanan positif : Udara dan cairan dalam kavum pleura (+ 763 mmHg atau lebih).
-           Akhir pipa WSD menghasilkan tekanan WSD sedikit ( + 761 mmHg )
3.      Critical Thinking
Perawat harus memperhatikan setiap prosedur yang akan dilakukan. Kenyamanan klien sangat diutamakan. Kesterilan alat dan perawat sendiri harus dijaga. Perawat melakukan tindakan dengan teliti agar tidak terjadi kesalahan atau malpraktek.
4.      Anatomi

5.       Nursing Process
ü  Bahan dan antiseptik : 
1.  Poviodone Iodone 10 %
2.  Kasa steril
3.  Sarung tangan steril
4.  Duk lubang steril
ü  Obat anestesi lokal :     
1.  Lidocain 1% 10 cc
2.  Disposable 10 cc 1 buah
ü  Alat-alat dan material :
1.  Tangkai pisau + pisau No. 18
2.  Klem bengkok 18 cm 1 buah
3.  Klem bengkok 16 cm 1 buah
4.  Needle Holder + jarum kulit
5.  Pinset Chirurgis 2 buah
6.  Gunting benang
7.  Benang silk 2- 0,50 cm
8.  NaCl 10% 1 kolf
9.  Plester
10.NGT No. 18 (u/ slang WSD dewasa) 1 buah
11.NGT No. 14 (u/slang WSD anak)1 buah.
a.      Posisi:
½ duduk sedikit miring ke arah sehat,
tangan sisi yang sakit diangkat di atas kepala.
b.       Persiapan:
ü  Botol WSD
1.    Botol cairan NaCl 0,9% dibuatkan lubang memakai gunting (cukup dapat dilewati pangkal NGT)
2.    Isinya dibuang dan disisakan 200 cc
3.    Masukkan Poviodone Iodone 10% 20 cc
4.    Buatkan agar dapat digantung pada bed pasien
ü  Slang WSD
Slang WSD diberi tanda dengan mengikatkan benang 3-5 cm dari lubang terakhir (tergantung tebal tipisnya dinding toraks penderita)
c.       Aspek keamanan dan keselamatan
-          Identifikasi klien dengan benar
-          Pastikan tindakan yang benar pada sisi tubuh yang benar
-          Pastikan akurasi saat melakukan tindakan
-          Gunakan alat injeksi sekali pakai
-          Menjaga kebersihan tangan
-          Mempertahankan teknik steril

d.       Teknik (dilakukan oleh dokter)
1.            Operator memakai sarung tangan
2.            Tindakan a dan antiseptik daerah operasi, thoraks/dada bagian lateral dari linea axillaris anterior ke arah posterior. Dari kranial ke kaudal/ mulai axilla sampai ke angulus kostarum
3.            Observasi sela iga 6-7 linea axillaris media
4.            Daerah operasi ditutup duk lubang
5.            Lakukan infiltrasi anestesi daerah tersebut dengan radius + 3 cm
6.            Insisi sejajar kosta 6 atau 7 sampai memotong fascia
7.            Membuat saluran dengan klem menelusuri permukaan kosta sampai tepi atasnya, seterusnya tusukan ujung klem tadi untuk menembus m. Interkostalis dan pleura
8.            Setelah pleura tembus, klem dibuka untuk melebarkan lubang.
9.            Klem dicabut, masukkan jari kelingking (untuk menilai apakah lubang tadi cukup besar agar NGT dapat masuk) (Prosedur ini tidak dianjurkan pada bayi dan anak)
10.        NGT ujungnya dipegang dengan klem bengkok kemudian dimasukkan melalui lubang tadi hingga masuk rongga pleura
11.        Klem dibuka slang WSD didorong sampai batas yang sudah diberi tanda (jangan ada lubang slang WSD berada di luar rongga pleura)
12.        Kemudian klem dicabut
13.        Fiksasi slang WSD dengan menjahitkan benang yang diikatkan sebaai tanda tadi dengan kulit sekaligus menjahit luka insisi.
14.        Pada pneumothoraks, segera masukkan ujung slang ke dalam cairan botol WSD
15.        Pada kasus hidro/hemato/pyo-thoraks, keluarkan dulu cairan tersebut sebanyak mungkin  (jangan lupa cairan yang dikeluarkan harus ditampung dan diukur) baru kemudian ujung slang WSD dimasukkan ke dalam cairan botol WSD
16.        Selanjutnya slang WSD difiksasi dengan botol WSD.
17.        Sekitar luka dibersihkan, lukanya diberi salep antiseptik baru ditutup kasa steril selanjutnya difiksasi dengan plester
18.        WSD dikatakan patent bila undulasi +
5.    Hal-hal penting yang harus didokumentasikan
-          Pengkajian sebelum dan sesudah tindakan
-          Ukuran alat yang digunakan
-          Lama tindakan
-          Jumlah drainase
-          Respon klien terhadap tindakan

























»»