Follow by Email

Rabu, 28 September 2011

Pengembangan, Pengaturan dan Klasifikasi obat, Infeksi Oportunistik, dan Pengontrolan Pertumbuhan Mikroorganisme



Pemberian obat yang aman dan akurat merupakan salah satu tugas perawat. Perawat harus memahami masalah kesehatan klien saat ini dan sebelumnya untuk menentukan apakah obat tertentu aman dikonsumsi klien. Obat adalah alat utama terapi yang digunakan oleh dokter untuk mengubati klien yang memiliki maslah kesehatan. Walaupun obat dapat menguntungkan klien dalam masalah kesehatannya, namun obat memiliki efek samping yang harus diketahui perawat. Dokter, perawat dan ahli farmasi menggunakan standar kualitas dan permurnian obat yang digunakan oleh pemerintahan Amerika Serikat, yaitu Pure Food and Drug Act (Undang-undang makanan dan obat murni). Standar ini digunakan untuk memastikan klien menerima obat yang alami dalam dosis yang aman dan efektif. Standar yang diterima masyarakat harus memiliki kriteria sebagai berikut:
1.      Kemurnian. Pabrik harus memenuhi standar kemurnian untuk tipe dan konsentrasi zat lain yang diperbolehkan dalam produksi obat.
2.      Potensi. Konsentrasi obat aktif dalam preparat obat memengaruhi kekuatan atau potensi obat.
3.      Bioavailability. Kemampuan obat untuk lepas dari bentuk dosisnya dan melarut, diabsorpsi, dan diangkut tubuh ketempat kerjanya disebut bioavailability.
4.      Kemanjuran. Pemeriksaan laboratorium yang terinci dapat membantu menentukan efektivitas obat.
5.      Keamanan. Semua obat harus terus dievaluasi untuk menentukan efek samping obat tersebut.
Penggunaan obat secara tidak bijaksana menimbulkan masalah kesehatan yang serius bagi pengguna, keluarga, dan komunitas. Perawat memiliki kewajiban untuk memahami masalah individu yang menyalahgunakan obat. Ketika perawat merawat seorang klien yang diduga menyalahgunakan obat atau mengalami ketergantungan obat, perawat harus menyadari nilai dan sikap klien terhadap penyalahgunaan obat seperti alasan klien menggunakan obat tersebut agar perawat dapat mengidentifikasi dan memahami masalah klien.

Perawat harus mengetahui karakteristik umum obat dalam setiap golongan. Setiap golongan obat memiliki implikasi keperawatan untuk pemberian dan pemantauan yang tepat. Misalnya, Implikasi keperawatan yang berhubungan dengan pemberian diuretik yaitu memantau masukan dan haluaran cairan,menimbang barat badan klien setiap hari, mengkaji adanya edema pada jaringan tubuh, dan memantau kadar elektrolit serum. Obat tersedia dalam berbagai bentuk diantaranya sebagai berikut:
No
Bentuk Obat
Deskripsi
1.

2.



3.

4.


5.

6.



7.

8.
9.
10.

11.


12.



13.

14.
15.
Kaplet

Kapsul



Eliksir

Tablet enterik bersalut


Gliserit

Cakram intraokular



Obat gosok

Losion
Saleb
Pasta

Larutan


Supositoria



Sirup

Tingtura
Tablet

Bentuk dosis padat untuk pemberian oral; bentuk seperti kapsul bersalut, sehingga mudah ditelan
Bentuk dosis padat untuk pemberian oral; Obat dalam bentuk bubuk, cairan atau minyak dan dibungkus oleh selongsong gelatin; kapsul diwarnai untuk membantu identifikasi produk.
Cairan jernih berisi air dan/atau alkohol; dirancang untuk penggunaan oral; biasanya ditambah pemanis.
Tabelt untuk pemberian oral, yang dilapisi bahan yang tidak larut dalam lambung; lapisan larut di dalam usus; tempat obat diabsorpsi.
Larutan obat yang dikombinasi dengan gliserin untuk penggunaan luar; berisi sekurang-kurangnya gliserin
Bentuk oval, fleksibel berukuran kecil terdiri dari dua lapisan luar yang lunak dan sebuah lapisan tengah berisi obat. Saat dilembabkan oleh cairan okuler (mata), cakran melepas obat selama satu minggu.
Biasanya mengandung alkohol, minyak, atau pelembut sabun yang diles pada kulit.
Obat dalam cairan, dioles pada kulit untuk melindunginya.
Semisolid (agak padat), penggunaanya dioleskan pada kulit.
Semisolid, lebih kental atau lebih kaku daripada salep dan lebih lembab dari pada saleb.
Berbentuk cairan yang dapt digunakan melalui oral, parenteral dapat juga dimasukan kedalam organ (mis. Irigasi kandung kemih). Harus steril dalam penggunaannya.
Bentuk dosis pada yang dicampur dengan gelatin dan dibentuk seperti peluru untuk dimasukkan ke dalam rongga tubuh (rektrum atau vagina); meleleh saat mencapai suhu tubuh.
Obat yang larut dalam larutan gula pekat; mengandung perasa yang membuat obat terasa lebih enak.
Alkohol atau larutan obat air-alkohol.
Berbentuk padat.

Infeksi oportunistik adalah infeksi serius akibat mikroorganisme normalnya tidak memiliki atau memiliki sedikit aktivitas patogen, tetapi menyebabkan penyakit jika resistensi pejamu menurun akibat penyakit serius, pengobatan invasif, atau obat pneumonia Pneumocystis cranii pada pasien HIV aids. Infeksi oportunistik juga dapat terjadi akibat penurunan kekebalan tubuh pada penderita HIV/AIDS, akibatnya mudah terkena penyakit-penyakit lain seperti penyakit infeksi disebabkan oleh virus, bakteri protozoa dan jamur dan juga mudah terkena penyakit keganasan.
No
Infeksi Opurtinistik
Gambaran Klinis
1.



2.







3.






4.
Infeksi Bakterial
Mycobacterium avium


Infeksi jamur
Kandidiasis

Kriptokokus

Histoplasmosis


Infeksi protozoa
Kriptosporidiosis

Pneumisitis

Toksoplasmosisi

Infeksi Viral
Sitomegalovirus


Herpes simpleks

Umum: demam, keringat malam, kelemahan, penurunan berat badan, nyeri perut, kelelahan, limfadenopati dan hepatosplenomegali menetap

Oral: bercak keputihan pada lidah atau mukosa bukal
Vaginal: rabas vagina
Meningitis: sakit kepala, demam, gangguan kesadaran
Penumonia: demam, napas pendek, batuk
Demam, penurunan berat badan, napas pendek, limfadenopati


Diare, kram perut, mual, muntah, kelelahan, penurunan berat badan, dehidrasi
Demam, batuk nonproduktif, napas pendek, penurunan berat badan, keringat malam, kelelahan
Ensefalitis: gangguan kesadaran, kejang, demam, koma


Retinitis: defisit atau perubahan visual unilateral
Gastointestinal: disfagia, mual, demam, diare

Rasa nyeri atau ulkus


Mengontrol pertumbuhan organisme patogen dapat dilakukan dengan tiga cara seperti: (1) membunuh patogen; (2)  menurunkan jumlah mikroorganisme kontaminan; (3) mencegah transmisi. Patogen adalah mikroorginesme atau substansi seperti bakteri, virus atau parasit yang mampu menimbulkan penyakit. Patogenesis adalah perkembangan, produksi atau proses pembentukan suatu penyakit. Bakteri patogen harus dihindari dan dibasmi karena akan mengancam kesehatan. Toksisitas yang dimiliki antibiotik dapat digunakan untuk melawan patogen. Toksin dapat membunuh bakteri dan virus dengan cara meracuninya. Contohnnya arsenik yang merupakan toksin yang pernah digunakan untuk mengobati sifilis.
Menurunkan jumlah mikroorganisme kontaminan dan mencegah transmisi dapat dilakukan dengan mencuci tangan. Mencuci tangan merupakan metode terbaik mencegah transmisi mikroorganisme. Telah terbukti bahwa tindakan mencuci tangan secara signifikan menurunkan infeksi pada ICU dan infeksi saluran pencernaan. Faktor penting untuk mempertahankan higiene yang baik dan mempertahankan integritas kulit seperti: (1) lama mencuci tangan; (2) paparan semua area tangan dan pergelangan tangan ke alat yang digunakan; (3) menggosok dengan keras hingga terjadi friksi; (4) pembilasan menyeluruh; (5) memastikan tangan telah dikeringkan. Hampir semua bakteri transien dapat dihilangkan dengan sabun dan air, tetapi bakteri residen akan tetap tinggal. Pencuci tangan bakterisida, misalnya Hibicrub Povidone-iodine. Yang perlu perhatian khusus saat mencuci tangan adalah area tempat berkumpulnya mikroorganisme, seperti di sela-sela jari. Walaupun mencuci tangan dengan menggunakan bakterisida, namun tidak semua bakteri dapat dihilangkan. Tangan tidak pernah steril maka dari itu kita memerlukan sarung tangan steril dalam melakukan tindakan-tindakan steril. Selain itu pakaian pelindung yang digunakan ketika memasuki ruangan steril juga dapat mencegah transmisi mikroorganisme. Dalam menurunkan jumlah organisme kontaminan hal yang perlu diperhatikan adalah kebersihan, baik itu kebersihan diri maupun kebersihan lingkungan.
           
Daftar Pustaka
James, Joyce. dkk, (2008). Prinsip-Prinsip Sains Untuk Keperawatan. Jakarta: Buku Erlangga
Otto, Shirley E. (2003). Buku Saku Keperawatan Onkologi. Jakarta: Buku Kedokteran
Potter, P. A.,dan Perry, A. G. (2005) Fundamentals of Nursing.Ed.4 Volume 2 (Terj. Dr. Adrina Ferderika).   Jakarta: Penerbit Salemba Medika.

http://www.scribd.com/doc/49900217/Infeksi-Oportunistik-Susunan-Saraf-Pusat-Pada-AIDS

0 komentar:

Posting Komentar